Ada apa dengan Ginsul?



"Sejak membaca statusnya di facebook, pikiranku tidak pernah tenang. Sudah kucoba untuk menghubunginya via sms, tapi klarifikasinya menggantung. Biasa, naga satu ini paling pintar menyembunyi rasa"




Ada undangan untuk menginap di rumah Usagi sabtu lalu, datangnya dari naga ginsul. Saya tahu dia membutuhkan teman berbagi di sana, dan jika saya tidak dikejar deadline oleh orang tua, yakinlah saya dengan senang hati kabur dari rumah, mengarang cerita bohong (as usual...), untuk menjadi salah satu tong sampah baginya. Saat ini, hal yang paling ingin kulakukan adalah minggat dan curhat-curhatan semalam suntuk dengan para naga!



Semoga ginsul segera menemukan obat penenangnya... Bukan yang berasal dari campuran bahan kimia, tapi dari rangkulan seorang sahabat, serta kebijakan hatinya...

selasa/rabu?



Saya pilih rabu!
Rabu tahun depan kalau bisa. Atau tahun depannya lagi. Atau sebaiknya selasa dan rabu di
remove saja dari daftar nama-nama hari supaya kau tetap di sini?
Supaya aku bisa selamanya memandangmu, merasakan hangatnya sentuhanmu, berdebat, dan membuatmu kesal. Raut wajahmu yang selalu berubah seiring perubahan mood-ku adalah salah satu pemandangan terindah ketika bersamamu. Aku senang mempermainkanmu dengan emosiku. Melihatmu marah atau hampir menangis, tersenyum dan tertawa, adalah warna-warnimu yang tak pernah rela kubagi dengan orang lain.

Tapi bagaimanapun kau harus pergi. Lagi...

Kali ini dalam waktu yang tak pasti. Mungkin sepuluh bulan sesuai tenggak kontrakmu saat ini. Mungkin juga dua tahun lagi, setelah kau merasa pengalaman kerjamu cukup untuk pindah kerja dan cukup untuk pondasi masa depan kita.
Tapi, mungkin juga selamanya, kalau keadaan dan keluarga menahanmu, kalau kau merasa nyaman dengan kerjaanmu, atau kalau ada yang berhasil mengusirku dari hatimu...


when your gone,
maybe it's time come home

Kembali pulang, menghangatkan badan...
Merapikan mental dan diri untuk memulai hidup baru
Memulai rutinitas sebagai cecunguk negara sambil memintal benang rindu...
Cepatlah pulang, secangkir teh selalu siap menjemputmu...


Coret

Blog ini sebenarnya sudah usang usianya, tapi setelah jalan-jalan ke blog teman jadi rindu coret-coret. Meski isinya juga nda jelas (sama nda jelasnya juga dengan tujuanku menulis postingan ini), tapi bagaimanapun selalu ada uneg-uneg yang mau dikeluarkan. Berhubung saya ini orangnya rada-rada introvert, jadi kalo menumpahkan kesal ya...kesini ini...

Untungnya pas niat mencoret itu muncul, blognya belum terhapus. Tapi, sekilas melihat isinya, hupff...memprihatinkan!

Yah, sambil melatih keterampilan mencoret, saya berinisiatif bermain-main dengan desainnya sambil merepotkan emma. Untungnya yang direpotkan juga suka mencoret di dunia maya, jadinya lebih menguasai teknik-teknik rahasia menghias blog. Hihihi...

Lay out ini juga salah satu pilihan terbaiknya. Kekanakan sepertiku, penuh warna seperti egoku, dan imut seperti ponakanku. (lho? :p )

Mudah-mudahan saja tampilan barunya bisa merangsang mood-ku untuk mencoret. Menuangkan ego yang warnanya tidak pernah bisa ku prediksi. Seperti kali ini, ntah warnanya apa, sampai coretan yang kubuat jadi nda jelas begini. Mat enjoy deh! ;)

Bagaimana menjadi kupu-kupu?


Kalau ulat, tentu jelas proses metamorfosanya, daru ulat kecil, dewasa, lalu membentuk kepompong (pupa), dan selang beberapa waku akhirnya menjadi kupu-kupu. Sungguh Kuasa-Nya tak terhingga.

Tapi yang terjadi pada ulat hanya sebatas perubahan biologis. Lain halnya dengan manusia, proses metamorfosanya tidak hanya pada segi biologis tapi juga mental. Tapi kalau pada manusia lebih dikenal dengan istilah evolusi (cuma sok tahu sih, mudah-mudahan tidak salah). Jika perubahan biologis dapat dilihat dari perubahan struktur tubuh atau wajah seseorang, maka perkembangan mental yang menyertainya hanya dapat dideteksi dari prilakunya dalam menghadapi suatu masalah.

Proses perkembangan mental tidak selalu berjalan bersamaan dengan perkembangan fisik,. Ada yang lambat dan ada juga yang cepat, tergantung gen bawaan, kondisi lingkungan tempat tinggal, atau kualitas masalah yang dihadapi dalam hidupnya.

Nah, saat ini kepompongku sudah menghangat, dan sangat nyaman terasa. Tapi tiba-tiba panggilan alam datang dan menuntutku keluar dari zona nyaman. Saya punya pilihan untuk tetap tinggal dan bermalas-malasan dalam kepompong, atau terbang melihat dunia dengan warna-warninya. Saya sudah lama memimpikan petualangan di dunia nyata tapi ketika pintu itu terbuka, kok rasanya hampa? Tidak ada kesan, tidak ada euforia berlebih seperti seperti seseorang yang baru menerima lotre. Mungkin karena dunia yang memanggil, sedikit berbeda dengan dunia yang kuimpikan selama ini?


Bukan, bukanyya tidak mensyukuri panugerah-Mu wahai sang Maha Pemberi...
Jiwa ini tahu, apapun keputusan-Mu, itulah yang kubutuhkan, meski egoku meminta lain.
Pelayanan dalam kepompong terlalu memanjakan hingga jiwa ini malas dan tidak berani mengasah mentalnya. Saat ini, keraguan bermunculan dalam benaknya, apakah dia mampu bermetamorfosa sempurna layaknya kupu-kupu?

Almond Descents

Lihat bentuk mata mereka, sangat mempesona... Almond shape eyes are the most beautiful eyes ever....


Matanya terlihat bulat cerah di hari pertama hembusan napasnya mengaliri dunia. Tapi di tahun pertama hingga ajal, matanya terlihat seperti kacang almond. Cantik...





Nah turunan ke dua dan ke tiga dari orang tua yang berbeda ini matanya malah terlihat sipit di hari kelahiran mereka. Eh, lama-lama jadi seperti almond juga.






Lihat, sipit kan?

Penasaran, kalo besar nanti mata mu seperti apa yah? Let's see...Moga panjang umur sayang....

Ulang Tahunmu (Seharusnya)



Jika hari ini kau masih di sini, pastinya kau sudah lancer mengomel…
Jika hari ini kau masih disini, pastinya sudah sibuk dengan teman barumu di play group…
Jika hari ini kau masih di sini, pastinya kita lebih sering menghabiskan waktu bersama, karena kesibukanku yang semakin berkurang…
Jika hari ini kau masih di sini, pastinya gaun Cinderella itu sangat manis kau kenakan saat mengobrak abrik rumah…
Jika hari ini kau masih di sini, pastinya kita akan tidur bareng lagi dikamar favoritmu…
Jika hari ini kau masih di sini, pastinya lagi-lagi kau akan merebut makananku…
Jika hari ini kau masih di sini, kan kukecup keningmu, berdoa untuk kesembuhanmu, dan berucap,

"Happy Birthday Princess Zahrah"
(ditulis 24 September 2009)

Mencari cahaya


When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?

Sesaat setelah melihat pengumuman di situs LAN dan tidak mendapati namaku di sana, syair lagu coldplay ini langsung bergema di kepalaku diiringi barisan tetes air di pelupuk mata. Sakit…

Kegagalan sering menghantuiku. Tapi tidak ada yang sesakit ini. Biasanya saya cuma menganggapnya angin lalu dan bergembira menyambut hari-hari berikutnya yang penuh tantangan. Tapi kali ini, air mata itu mengalir kurang lebih satu menit…

LAN adalah salah satu lembaga yang paling menarik hatiku selain BTN. Hanya dua tempat inilah usaha dan harapan terbesarku berlabuh. Ada keyakinan akan masa depan yang cerah ketika mengikuti tahapan-tahapan ujiannya yang dari sudut pandangku, dilakukan dengan jujur. Tak terlihat jejak-jejak nepotisme di dalamnya, membuatku tersentuh dan berharap…

Harapanku semakin melambung ketika lulus tes tahap I. Diantara 15 pelamar yang lulus berkas, dan akhirnya tersaring hingga 5 orang setelah tes tertulis (tahap I), namaku tidak pernah hilang dari daftar peserta yang lulus. Hingga hari ini…

Yang paling membuat tidak rela adalah tahapan perjuangannya yang kuberi nilai ‘outstanding!’ - saking susahnya. Setelah tiga hari berturut mengikuti tahapan kedua tes, yaitu

1) tes potensi akademik – yang meski cuma berlangsung selama 3 jam tapi sudah sangat cukup menaikkan tensi darah karena porsi soal dan porsi waktu yang diberikan sangat tidak sinkron (kalau tidak salah ingat, soal dibagi tiga bagian, tiap bagian + 150 soal dengan jatah satu jam);

2) Psikotes – tes inilah yang paling lama. Bahkan saat adzan magrib sudah berkumandang-pun, kami (peserta tes) masih disibukkan dengan tebak-tebak alur cerita bergambar. Meski sudah di asup cemilan dan makan siang dari panitia, maag ku kambuh tepat pukul 3 sore. Padahal tidak ada satu tes pun yang berhasil membuat maagku ngambek sebelumnya.

3) Wawancara – inilah tes yang paling kutakuti (saya yakin, disinilah nilai minus terbanyakku). Kita tidak pernah tahu apa yang akan ditanyakannya. Pertanyaan akan berkembang sesuai jawaban yang kau lontarkan juga tergantung mood si pewawancara. Hari itu ada dua Bapak yang mewawancaraiku. Satunya bertanya teknis dan satunya lagi bertanya psikologis. Pertanyaan seputar Cicak Buaya masih bisa kujawab, tapi ketika beliau-beliau bertanya tentang teknis LAN, kujawab seadanya saja. Memang wawasanku tentang lembaga ini masih sangat dangkal. Hehe…


Yah beginilah kalau terlalu banyak dosa…
Lelah….kecewa…ingin rasanya berhenti sampai di sini, berhenti berharap.
Rasanya perjuanganku telah mencapai titik kulminasinya
Tak ada lagi energi yang tersisa untuk berjuang lagi
Meski kenyataannya status masih pegawai rumahan…

Aaarghhh…
Ke mana lagi harus mencari?
Sementara tak ada lagi energi yang tersisa….
Adakah cahaya untukku?